MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN DA’WAH

14 06 2009

PENGERTIAN DAKWAH DAN TABLIGH

Dakwah adalah panggilan atau seruan bagi umat manusia menuju Allah, yaitu jalan yang menuju Islam.

Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, Aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan Aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.

Dakwah sering diartikan : Usaha untuk merubah situasi kurang baik (tidak Islami) ke situasi yang lebih baik (Islam). Yang sangat penting dalam kegiatan dakwah yaitu adalah usaha untuk merubah cara berfikir cara merasa bersikap dan cara hidup sasaran dakwah. Kearah kualitas hidup yang lebih baik. Hakekat dakwah sama dengan usaha untuk membangun yaitu hari esuk lebih baik dari pada hari ini.

Dalam hal ini dakwah dapat diartikan segenap usaha Muslim baik secara individual maupun secara kolektif untuk merekonstruksi masyarakat sesuai petunjuk ilahi.

Kreteria bahwa sesuatu kegiatan bisa disebut dakwah jika kegiatan tersebut merupakan sistem usaha bersama orang Islam dalam rangka mewujudkan ajaran Islam dalam semua segi kehidupan sosial kultural yang dilakukan melalui lembaga – lembaga dakwah. Sedangkan tabligh merupakan sistem usaha menyiarkan dan menyampaikan islam agar dipeluk individu dan masyarakat yang dilakukan oleh individu baik melalui tulisan maupun lesan. Tabligh merupakan bagian dari sistem dakwah Islam dan dilakukan oleh semua ahli sesuai dengan profesinya dalam suatu kerangka dakwah, jadi kegiatan dakwah yang dilakukan perseorangan dapat disebut sebagai tabligh, sedangkan dakwah apabila kegiatan tersebut dilakukan perseorangan atau kolektif yang didukung oleh sistem atau organisasi.

Inti dakwah adalah amar ma’ruf nahi munkar, yaitu menyuruk melakukan kebaikan dan mencegah melakukan keburukan.

B. HUKUM BERDAKWAH

Secara umum setiap Mu’min wajib berda’wah sesuai dengan kemampuan masing – masing. Untuk menyampaikan ajaran Islam kepada masyarakat lebih mendetail diberbagai aspek ajaran Islam ini adalah kewajiban yang bersifat kolektif, artinya kalau didalam kelompok masyarakat tersebut sudah ada sebagaian yang sudah melakukan maka yang lain tidak dituntut.

C. FUNGSI DAKWAH

Fungsi kerisalahan berarti, bahwa kegiatan dakwah itu sebagai melanjutkan tugas pokok diutusnya Rasulullah saw. Memandang fungsi kerisalahan dakwah, maka Islam tidak lain merupakan sumber nilai. Dengan demikian dakwah lebih merupakan suatu proses alih nilai (transfer of value) yang dikembangkan dalam rangka perubahan perilaku, sehingga obyek dakwah menjadi manusia masa depan yang lebih lengkap dalam dimensi keberagamaannya. Dakwah adalah suatu proses pengkondisian agar obyek dakwah menjadi lebih mengetahui, memahami, mengimani dan mengamalkan Islam sebagai pandangan dan pedoman hidupnya. Dengan ungkpan lain, hakekat dakwah adalah suatu upaya untuk merubah suatu keadaan menjadi menjadi keadaan lain yang lebih baik menurut tolok ukur ajaran Islam. Dalam hal ini dakwah berarti upaya menumbuhkan kesadaran dari dalam pada diri objek dakwah, yang memungkinkan objek dakwah mempunyai persepsi yang cukup memadai tentang Islam sebagai sumber nilai dalam hidupnya dan dapat menumbuhkan kekuatan kemauan (ghirah, will power) dalam dirinya untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Islam tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Dalam terminologi agama perubahan yang terjadi akan menyangkut aspek aqidah (iman), akhlak, ibadah dan mu`amalah duniawiyah.

Dengan demikian dakwah dapat dipandang sebagai proses komunikasi dan proses perubahan sosial. Sebagai proses komunikasi, karena pada tingkat (objek) individu, kegiatan dakwah tidak lain adalah suatu kegiatan komunikasi, yaitu kegiatan penyampaian pesan dari komunikator (da`i) kepada komunikan (objek dakwah) dengan melalui media tertentu, agar terjadi perubahan pada diri komunikan. Dakwah juga merupakan suatu proses perubahan sosial, oleh karena perubahan nilai diatas juga terjadi pada tingkat masyarakat, karena proses perubahan nilai dimungkinkan akibat interaksi sosial antar individu anggota masyarakat baik sebagai objek maupun subjek dakwah.

Dengan melihat dakwah sebagai proses komunikasi dan proses perubahan sosial diatas, maka pemahaman dan penggambaran dakwah hanya sebagai dialog lisan, menjadi tidak memadai lagi, sebab untuk terjadinya proses perubahan sosial tersebut, disamping dialog-dialog lisan, dibutuhkan dialog-dialog lain, seperti dialog amal (karya) dialog seni, dialog intelektual dan dialog budaya (nilai). Dengan demikian disamping dalam pengertian yang konvensional (da`wah bil-lisan), dakwah mestinya juga merupakan dialog-dialog amal, seni, intelektual dan budaya (da`wah bil-hal).

1. Fungsi Kerahmatan Dakwah dan Kekhalifahan

Fungsi kerahmatan dakwah, maka dakwah berarti menjadikan Islam sebagai sumber konsep bagi manusia dalam meniti kehidupan di dunia. Dalam kaitan ini dakwah meliputi upaya :

a. menterjemahkan (menjabarkan) nilai – nilai normatif Islam menjadi konsep – konsep yang oprasional di segala aspek kehidupan manusia ( bud-sos-ek-pol-iptek).

b. Implemantasi konsep – konsep tersebut dalam kehidupan aktual (individu, keluarga, dan masyarakat)

Dengan demikian fungsi kerahmatan dakwah menghendaki validitas dan aktualitas Islam sebagai sumber konsep untuk mengantisipasi permasalahan yang di hadapi manusia dan juga untuk mengembangkan sistem budayanya. Dalam pengertian ini maka menunaikan tugas dakwah bererti menunaikan juga tugas kekholifahan (pengaturan dan pembangunan)

Dalam hal ini bahwa tugas dakwah meliputi kawasan yang sangat luas. Sebagai ilusrasi misalnya, dalam pengertian da’i bukan saja mencakup mubaligh (dalam arti yang sempit). Melainkan juga mereka yang tekun mengkaji dan menjabarkan nilai – nilai normatif Islam menjadi konsep – konsep yang secara teknis mudah dijalankan dalam masyarakat (oprasional). Termasuk juga dalam pengertian da’i, mereka para pekerja sosial, para penggerak masyarakat, para penyantun fakir miskin dan anak yatim, para pendidik, para penulis, dan siapapun yang kegiatannya itu dalam rangka menerjemahkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Disisi lain, fungsi kerahmatan da’wah juga meng isyaratkan bagi mereka yang terpanggil sebagai khoiro ummah ( QS. Ali Imran 110). Untuk melakkan tugas kolektif, yaitu membuktikan kebenaran dan keunggulan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Ini suatu tugas besar dan berat, yakni menterjemahkan Islam dalam konsep – konsep kehidupan yang oprasional dan akurat, mampu menjawab persoalan – persoalan yang timbul dalam sistem budaya manusia.

D. AKTUALITAS MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN DAKWAH.

Uraian diatas kiranya dapat memberikan wawasan pemahaman yang memadai mengenai kedudukan Muhammadiyah sebagi “GERAKAN DAKWAH”. Kegiatan Muhammadiyah dengan amal usahanya, tidak lain adalah manifestasi dakwah Islamiyah di berbagai aspek kehidupan manusia. Amal usaha Muhammadiyah (AUM) tidak lain merupakan wajah dakwah persyarikatan dan majelis – majelis, serta ortom yang merupakan perangkat dakwah persyarikatan, baik yang menyakut fungsi kerisalahan maupun fungsikerahmatan atau fungsi kekhalifahan.

Disisi lain uraian diatas dapat dijadikan arahan dan acuan bagaimana meningkatkan peran dakwah persyarikatan. Seberap ajauh gerak dakwah persyarikatan sudah merambah berbagai lahan dakwah yang non konfensional, dialog seni, dialog budaya, dialog intelektual, dan sebagainya. Secara kualitatif sejauh mana persyarikatan Muhammadiyah telah mengupayakan oprasionalisasi nilai nilai Islam dan program – program amal usahanya. Selain itu, diharapkan kepada para aktifis penggerak dakwah persyarikatan Muhammdiyah dapat memahami realitas dakwah persyarikatan yang ada sekarang dan yang seharusnya kita usahakan.





TANTANGAN DAKWAH DALAM MASYARAKAT KONTEMPORER

10 06 2009

Tidak mudah untuk menyusun strategi dakwah yang cespleng dalam konteks masyarakat spasiotemporal seperti sekarang ini. Kesulitan menghadang tatkala kita menorehkan wajah ke depan langsung berhadapan dengan hamparan tatanan masyarakat informatif-industrial berserta segala dampak yang ditimbulkannya. Betapa rumitnya memetakan arah perkembangan masyarakat itu, sehingga kita gagap menyiasatinya. Itu semua mewujudkan bahwa tuntutan akan keharusan merubah strategi komunikasi dakwah tidak bisa ditunda-tunda lagi.
Kemudian apa yang dapat kita lakukan untuk tetap memperluas syiar Islam di tengah globalisasi peradaban yang serba industrial itu? Ini pertanyaan yang tidak mudah untuk dijawab.
Kecenderungan peradaban global (millenium ke-3) bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan dihadapi dengan penuh kearifan dan manusiawi. Iptek yang terus berkembang harus menjadi media pengembangan religiusitas dan jalan mendekatkan diri pada Allah. Pilihan iman dan Islam sebagai jalan hidup harus bersedia dan berani bergumul dalam dinamika sejarah yang sering keras dan tak peduli pada penderitaan manusia yang diakibatkannya.
Masyarakat global saat ini juga menampakkan ciri-ciri sebagai masyarakat fungsional, masyarakat teknologis, saintifik, terbuka, pemiskinan agama, dan masyarakat permisif.
Perlu disadari bahwa peradaban global-industrial merupakan tahapan sejarah abad ke-21 yang tak terelakkan. Tidak lama lagi Indonesia yang bertekat memasuki mekanisme pasar (perdagangan bebas) akan berada dalam pusaran peradaban tersebut. Peradaban industrial disamping membawa kemajuan dan kemudahan hidup, juga menimbulkan persoalan sosial dan budaya yang luas akibat ketidaksiapan mental dan fisik sebagian manusia .
Harus pula disadari bahwa gerak pembangunan dan peradaban demikian disebabkan karena tidak seluruhnya terekam secara memadai dalam panduan cita-cita Islam. Pemikiran dan pembaharuan pemikiran Islam jauh dari pengalaman industrial, sehingga sulit diketemukan rujukan pemikiran Islam yang cukup berarti bagi penyelesaian berbagai persoalan kemanusian didalamnya.
Disamping itu, gagasan pembaharuan Muhammadiyah perlu diarahkan guna memberi sumber daya spiritual sebagai pondasi peradaban industrial. Dakwah persyarikatan harus dikembangkan sebagai strategi kebudayaan yang meliputi seluruh aspek kehidupan bagi upaya mewujudkan kemanusiaan sejati. Dakwah harus dapat memberi arah peradaban dan perubahan seluruh demensi kehidupan manusia dan masyarakat secara transformatif menuju kesejahteraan hidup duniawi yang Islami.
Gerakan dakwah juga perlu menaruh perhatian terhadap berbagai persoalan pengiring yang muncul dalam masyarakat global-industrial. Berbagai persoalan tersebut akan berkaitan dengan tumbuhnya kawasan perumahan dan industri, perilaku dan tatanan sosial-budaya yang belum diketemukan rujukannya dalam pemikiran klasik, munculnya kelompok strategis baru (kelas menengah, generasi muda terdidik, profesional muda, politisi, birokrat, dan intelektual), kemiskinan material dan spritual, perluasan keterasingan dan penyimpangan sosial serta keagamaan, dan perluasan kaum pekerja buruh.
Untuk operasional gerakan dakwah harus merupakan layanan sosial bagi penyelesaian hidup modern sebagai wujud tanggung jawab atau komitmen kemanusiaan. Untuk itu diperlukan perumusan dan penataan kembali etos dan struktur gerakan dakwah sehingga menempatkan Persyarikatan sebagai pengendali perubahan kearah kehidupan yang semakin manusiawi sejahtera, dinamis, dan berkemajuan atas dasar prinsip nilai ajaran Islam.
Profesionalitas pelaku dakwah ditentukan oleh kemampuan memanfaatkan secara maksimal seluruh model media komunikasi sosial yang meliputi tv, radio, internet, buku, majalah dan koran disamping media sosial budaya lainnya. Namun, sesuai kecenderungan masyarakat global-industrial yang membelah keutuhan kemanusiaan menjadi bagian–bagian yang rinci sulit diharapkan suatu sosok mubaligh yang memiliki kemampuan profesional generalistik. Karena itu pemanfaatan media di atas memerlukan pembagian kerja terprogram dan pelatihan yang terus menerus yang dapat dirubah dan dikembangkan sesuai tuntutan masyarakat.
Kemiskinan spiritual masyarakat modern industrial perlu diantisipasi melalui layanan dan konsultasi dakwah, pengembangan hidup jamaah dan bimbingan pengkayaan spritual kehidupan modern. Pendekatan etis dan sufistis mungkin dapat dipertimbangkan guna memperkaya pengalaman ritual melalui pengembangan tradisi dzikir dalam pengertian luas.
Masyarakat lapis bawah dan pekerja kasar seperti buruh akan meluas searah dengan pengembangan kawasan industri. Gerakan dakwah harus menaruh perhatian dan terlibat aktif menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Perlindungan dakwah dapat dilakukan tanpa harus berhadapan dengan berbagai kekuatan seperti kelompok masyarakat yang secara ekonomi lebih mapan atau penguasa dan perusahaan.
Keterasingan sosial juga meluas searah perkembangan kantong-kantong industri terlepas dari lingkungan di masyarakat. Situasi demikian tidak hanya dialami oleh kaum marginal di perkotaan, tetapi juga kelompok elit yang terlepas dari struktur besaran masyarakat. Untuk kasus demikian perlu pengembangan semangat hidup jamaah yang tidak semata berdasar status dan profesi tetapi berbasis semangat kebersamaan dan tolong-menolong dalam arti luas.
Keterasingan demikian juga dapat dialami akibat keagamaan yang reduksionistis dalam bentuk perilaku sempalan akibat ketidakmampuan mengintegrasikan ketentuan syar’i yang formal dengan tuntutan hidup industrial. Kondisi tersebut sering dihadapi generasi muda muslim berpendidikan. Untuk itu perlu dikembangkan pemikiran dan wawasan keagamaan yang menempatkan iptek dan kebudayaan sebagai jalan mendekati Tuhan di samping pemahaman substansi dan pesan moral firman Allah.
Strategi dakwah sekarang harus mengarah pada penanganan masalah riil. Artinya bahwa kegiatan dakwah harus merupakan usaha pemecahan atau penyelesaian masalah kehidupan umat dan masyarakat di bidang sosial-budaya, ekonomi dan politik dalam kerangka masyarakat modern. Dalam hal ini, konsep dakwah Muhammadiyah “Gerakan Dakwah Jamaah” menarik untuk dikembangkan. Namun sayangnya, konsep dakwah pemberdayaan masyarakat ini masih jauh dari jangkauan para mubaligh.
Dengan memahami dakwah sebagai pemecahan masalah diharapkan membuahkan tiga kondisi: pertama, tumbuhnya kemandirian dan kepercayaan umat serta masyarakat sehingga berkembang skap optimis. Kedua, tumbuhnya kepercayaan terhadap kegiatan dakwah guna mencapai tujuan kehidupan yang lebih ideal. Ketiga, berkembangnya suatu kondisi sosial dan ekonomi, politik serta iptek sebagai landasan peningkatan kualitas hidup umat.
Uraian di atas, setidaknya memberi kita jalan untuk memperlebar makna dakwah. Dalam arti yang paling sempit dakwah adalah memanggil dan mengajak seseorang atau sekelompok orang untuk memeluk agama Islam. Sedangkan arti yeng lebih luas dakwah bisa dipahami sebagai upaya peningkatan kualitas SDM, pengentasan kemiskinan, memerangi kebodohan dan keterbelakangan, dan pembebasan.
Akhirul kalam, gerakan dakwah adalah gerakan multidisipliner, multidimensi dan multifungsi yang dilakukan melalui multimedia. Hanya melalui strategi budaya dan wawasan keagamaan yang lebih dinamis dan kritis kita dapat menempatkan diri sebagai dinamisator dan fasilitator dalam dinamika sejarah dan perkembangan peradaban modern. Mutohharun Jinan





KM3 Solo Bentuk Kader Baru

7 06 2009

Korps Mubaligh Mahasiswa Muhammadiyah, baru satu bulan mengahiri masa perkaderanya, dengan harapan kader yang telah ada dapat di berdayakan dan dapat menggantikan estafet da’wah di kampus dan kalangan umum di masyarakat, rencana selanjutnya dari senior untuk membentuk kader menjadi kader yang siap di terjunkan dan mengeglola mahasiswa yang  telah mengikuti nyobron, mereka menjadi intruktur dan pendamping dalam acara tersebut, dan dengan perkembangan teknologi maka KM3 tidak kalah untuk berda’wah dengan media sebagimana yang di tuturkan oleh Ahmad Watik Pratiknya, Direktur Eksekutif The Habibie Center ketika menyampaikan materi mengenai Tantangan Dakwah dalam Perspektif Masyarakat Informasi dan Cyber Society dalam rapat kerja nasional (rakernas) Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah di gedung LPMP Jateng, hari Sabtu (21/02/2009).

Ungaran- Teknologi informasi dan komunikasi saat ini, seharusnya menjadi bagian dari sarana dakwah Muhammadiyah, dengan begitu, akan semakin luas objek dakwah yang dapat dijangkau.

Ungaran- Teknologi informasi dan komunikasi saat ini, seharusnya menjadi bagian dari sarana dakwah Muhammadiyah, dengan begitu, akan semakin luas objek dakwah yang dapat dijangkau.

Demikian disampaikan Ahmad Watik Pratiknya, Direktur Eksekutif The Habibie Center ketika menyampaikan materi mengenai Tantangan Dakwah dalam Perspektif Masyarakat Informasi dan Cyber Society dalam rapat kerja nasional (rakernas) Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah di gedung LPMP Jateng, hari Sabtu (21/02/2009). Watik mencontohkan, pemanfatan telepon genggam sebgai media dakwah, sudah mulai dilaksanakan di Indonesia yaitu dengan dimanfaatkannya fitur sms, dan voicemail sebagai wahana pengkajian Al Qur’an dan hadist. Internet menurut Watik, juga merupakan media yang dawah yang sangat efisien dengan berbagai keunggulannya, yang dapat diakses di mana saja, kapan saja, dan bersifat interaktif.

Lebih lanjut menurut Watik, pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi ini, juga harus dibarengi dengan membudayakan teknologi ini dikalangan masyarakat, karena dukungan sumberdaya dan sistem, menjadi syarat utama bagi terselenggaranya dakwah untuk masyarakat Iinformasi.





Hello world!

7 06 2009

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.